Jakarta – Pustakawan Balai Litbang Agama Jakarta mengikuti kegiatan Bicara Buku yang membahas karya anggota MPR RI, Willy Aditya, berjudul “Pancasila di Rumahku”. Acara digelar pada Rabu, 27 Agustus 2025 di Ruang Delegasi Lantai 2, Gedung Nusantara V, Komplek MPR/DPR/DPD RI.
Sekjen MPR RI, Siti Fauziah, dalam sambutannya menekankan pentingnya literasi di era digital. Menurutnya, minat baca masyarakat menurun karena lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai. “Bicara buku seperti ini penting untuk mengingatkan kita bahwa membaca adalah pintu pengetahuan. Pancasila bukan hanya untuk dihafalkan, tetapi harus dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Kegiatan ini bertujuan memperkuat literasi, khususnya di kalangan generasi muda, sekaligus meneguhkan kembali nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman hidup bangsa. Melalui bicara buku, peserta diajak tidak hanya membaca, tetapi juga mempraktikkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan ini menghadirkan diskusi tentang relevansi Pancasila dalam kehidupan nyata. Pustakawan Balai Litbang Agama Jakarta bersama peserta lain diajak memahami Pancasila sebagai nilai yang hidup, bukan sekadar teks formal.
Dalam kesempatan itu, Willy Aditya menjelaskan bahwa bukunya lahir dari kegelisahan melihat sosialisasi Pancasila yang terjebak pada formalitas. Ia menegaskan Pancasila harus hadir melalui praktik sederhana, seperti gotong royong, menghormati perbedaan, dan menjaga harmoni sosial.
“Jangan memitoskan Pancasila, jangan menjadikannya sekadar hafalan. Pancasila harus menjadi nilai kerja dalam keseharian kita. Senyum, menghormati perbedaan, dan gotong royong adalah wujud nyata Pancasila,” kata Willy.
Ia juga menekankan peran literasi untuk membumikan Pancasila. “Membaca, menulis, dan berdiskusi adalah satu paket. Tanpa literasi, Pancasila hanya berhenti sebagai jargon. Melalui karya dan ruang kreatif, nilai-nilai Pancasila bisa hadir nyata di tengah masyarakat, khususnya generasi muda,” tambahnya.
Kepala Balai Litbang Agama Jakarta, Irhason, mengapresiasi kegiatan ini. “Kehadiran pustakawan dalam forum literasi sangat penting. Selain menambah wawasan, juga menguatkan peran pustakawan sebagai penyebar pengetahuan. Pancasila sebagai nilai dasar bangsa harus terus dihidupkan melalui buku, diskusi, dan karya nyata,” ujarnya.
Partisipasi pustakawan dalam kegiatan ini diharapkan memperkuat tradisi literasi yang inklusif. Bicara Buku menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali Pancasila sebagai pedoman hidup yang nyata dalam keseharian masyarakat Indonesia.