
JAKARTA — Perpustakaan Balai Litbang Agama Jakarta (BLA Jakarta) mematangkan persiapan menghadapi surveillance akreditasi sekaligus memperkuat kolaborasi literasi bersama Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi DKI Jakarta (DISPUSIP DKI Jakarta). Koordinasi tersebut berlangsung di Kantor DISPUSIP DKI Jakarta, Rabu (19/8).
Pertemuan membahas tindak lanjut rekomendasi hasil asesmen sebelumnya, kesiapan pengelolaan perpustakaan, serta peluang kerja sama dalam pengembangan program literasi yang memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Arif Fadhilah, Kasi Pembinaan dan Pengembangan DISPUSIP DKI Jakarta, mengatakan kolaborasi antarlembaga diperlukan agar keterbatasan sumber daya tidak menghambat pelaksanaan program yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Yang penting adalah bagaimana kita bisa berkegiatan bersama, saling mendukung, dan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki masing-masing pihak,” ujar Arif.
Dalam persiapan surveillance, BLA Jakarta perlu memastikan rekomendasi hasil asesmen sebelumnya telah ditindaklanjuti secara nyata. Hal itu mencakup pembaruan kebijakan, penguatan pengelolaan, ketersediaan bukti pendukung, hingga kesesuaian antara dokumen dan kondisi perpustakaan.
Pengelolaan koleksi juga menjadi bagian penting. Koleksi perlu disesuaikan dengan bidang keilmuan dan kebutuhan pemustaka, sementara data koleksi harus tersedia secara terukur agar dapat menunjukkan relevansinya dengan layanan yang diberikan.
Bagi perpustakaan, surveillance tidak sekadar menjadi proses untuk mempertahankan predikat akreditasi. Evaluasi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai instrumen untuk menjaga konsistensi mutu layanan dan mendorong perbaikan pengelolaan secara berkelanjutan.
Di sisi lain, pertemuan tersebut membuka peluang kerja sama di luar agenda akreditasi. Kolaborasi dapat diarahkan pada kegiatan literasi masyarakat, edukasi anak, pengembangan komunitas baca, dan literasi keagamaan.
Sejumlah agenda yang berpotensi dikembangkan bersama antara lain Hari Anak Jakarta Membaca dan festival literasi yang direncanakan berlangsung di kawasan Cikini pada Oktober mendatang.
Arif menilai program literasi yang memiliki manfaat bagi masyarakat dapat dikembangkan secara bersama meskipun belum tersedia anggaran khusus.
“Kalau programnya bagus dan memberikan manfaat, kenapa tidak kita jadikan sebagai program bersama,” katanya.
Kolaborasi tersebut diharapkan memperkuat peran perpustakaan sebagai ruang belajar dan interaksi masyarakat, bukan sekadar tempat penyimpanan serta peminjaman bahan pustaka.
Bagi BLA Jakarta, penguatan tata kelola dan jejaring kolaborasi menjadi dua langkah yang saling melengkapi. Akreditasi memastikan standar layanan tetap terjaga, sedangkan kerja sama memungkinkan sumber daya dan program literasi menjangkau masyarakat secara lebih luas.